Minggu, 10 Juni 2012


PERMASALAHAN DALAM PENGEMBANGAN
TERNAK KERBAU DI INDONESIA

OLEH:
MUHAMMAD MUHLISIN



I.  PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman hayati sangat melimpah. Namun, salah satu keanekaragaman hayati yang perlu mendapat perhatian lebih adalah kerbau, sebab populasinya kini cenderung menurun setiap tahunnya. Kerbau (Babalus bubalis) mempunyai keistimewaan lebih dibandingkan dengan sapi karena mampu hidup dikawasan yang relatif sulit, lebih-lebih bila pakan yang tersedia berkualitas sangat rendah (Herianti et all., 2009).

 


 



 





 
Potensi kerbau tidak hanya sebagai sumber tenaga kerja, tetapi juga berperan penting dalam penyediaan daging, susu, dan pupuk. Di Toraja misalnya ternak kerbau dijadikan sebagai ternak pelengkap pada acara sosial keagamaan. Di beberapa daerah seperti kabupaten Blora dan Banten, preferensi daging kerbau lebih tinggi dimana masyarakat lebih suka mengkonsumsi daging kerbau. Lebih dari 90% dengan sistem pemeliharaan tradisional pada skala pemilikan 2-3 ekor per rumah tangga peternak.

Populasi kerbau di Indonesia mengalami penurunan sejak tahun 1925 menurut Wiryosuhanto (1980) dalam Praharani L. at all. (2009) dengan laju penurunan yang semakin besar. Berdasarkan data statistik  populasi dari DITJENAK (2008), sejak tahun 2000 sampai 2008 populasi ternak kerbau tidak meningkat dan cenderung menurun 8,85% dengan rataan tingkat penurunan sebesar 1,03% per tahun selama kurun waktu delapan tahun. Penurunan populasi ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain rendahnya produktivitas ternak kerbau, masih tingginya angka kematian ternak, dan pemotongan betina produktif dimana angka pemotongan betina produktif mencapai 71,77% seperti yang dilaporkan di Nusa Tenggara Barat (Muthalib, 2006 dalam Praharani L. at all., 2009).

Putu et all., (1994) dalam Utomo et all., (2009) menegaskan bahwa penyebab rendahnya produktivitas kerbau adalah sifat dari ternak yang pertumbuhannya lambat, durasi periode birahi kembali panjang, masa kebuntingannya lama (lebih panjang dari sapi) dan timbulnya  gejala birahi yang sulit di deteksi. Di samping itu disebabkan oleh terbatasnya bibit unggul, rendahnya kualitas pakan, kurangnya modal, dan rendahnya pengetahuan petani terhadap reproduksi kerbau.


 

II.  PEMBAHASAN

A.  Potensi dari Ternak Kerbau
            Pada hakekatnya kerbau memberi keuntungan terhadap peternak yaitu produk daging, susu, pupuk, tenaga kerja, dan lain sebagainya. Kerbau dapat diklasifikasikan berdasarkan bangsanya yakni kerbau lumpur dan kerbau sungai. Banyak laporan yang telah mengumukakan hasil penelitian mengenai kemampuan produksi ternak kerbau. Kerbau mempunyai beberapa keunggulan untuk ditingkatkan perannya terutama berkaitan dengan potensi genetik dan aspek lingkungannya. Kerbau mempunyai daya adaptasi yang sangat tinggi, terlihat dari penyebarannya yang luas, mulai dari iklim kering, lahan rawa, daerah pegunungan, dan daerah dataran rendah.

Dalam usaha peternakan rakyat, kerbau dipelihara secara ekstensif terutama di daerah pantai, dimana pemeliharaan kerbau umumnya digembalakan. Ada dua tipe utama kerbau yakni kerbau lumpur dan kerbau sungai yang dimana masing-masing mempunyai beberapa perbedaan baik fenotipe, karyotipe dan mitokondria DNA (FAO, 2007 dalam Hasinah 2009).

B.  Sebaran  Ternak  Kerbau Di Indonesia
 Populasi kerbau di Indonesia kurang lebih 2,5 juta ekor yang mayoritasnya adalah kerbau lumpur, disamping kerbau sungai/Murrah, Nili-Ravi dan Javar Abadi dalam jumlah yang dapat dikatakan sedikit di Sumatera Utara. Bangsa – bangsa kerbau ini dimasukkan ke Indonesia pada abad 19 dari Punjab – India, dan dipelihara oleh masyarakat keturunan India sebagai penghasil susu. Tetapi, populasinya tidak banyak meningkat karena faktor reproduksi dan intensitas inbreeding yang diduga tinggi.

Ridhwan A.B Talib dan Chali Talib (2007) menyatakan bahwa sekitar 90% populasi ternak kerbau di Indonesia terkonsentrasi di 12 propinsi yaitu Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung dan Sumatera Selatan. Di 12 propinsi ini juga hidup mayoritas sapi potong di Indonesia. Akan tetapi ternak kerbau merupakan ternak yang mungkin paling sedikit diteliti dan didayagunakan di Indonesia.

Banyak faktor penyebab yang mengakibatkan produksi ternak kerbau di Indonesia sangat lambat. Salah satunya adalah efisiensi reproduksi yang rendah jika dibandingkan dengan ternak sapi, seperti tingkat kebuntingan yang rendah, lama bunting (11 bulan) dan juga interval generasi yang lebih panjang. Upaya meningkatkan produktivitas ternak kerbau menjadi hal yang sangat penting, bukan saja karena nilai budayanya yang sangat tinggi dalam peradaban  sebagian masyarakat Indonesia (suku Toraja, Sumba, Flores dan Batak) yang menyebabkan harga ternak kerbau lebih mahal dibanding sapi potong, sehingga ternak kerbau sangat perlu untuk dikembangbiakan.

C.  Persoalan Peternakan Kerbau Di Indonesia

Permasalah utama peternakan ruminansia termasuk kerbau di Indonesia yang paling konservatif/tradisional hingga kini adalah ketergantungan yang sangat besar terhadap potensi ternak itu sendiri dan alam (sedikit sekali campur tangan manusia). Diduga telah terjadi intensitas inbreeding yang tinggi pada kerbau Sungai (Situmorang et al.,1990 dalam Ridhwan,at all., 2007) dan mungkin juga pada kerbau Lumpur.

Pertimbangan ekonomi masih jauh dari pertimbangan peternak kerbau yang ada hanya: pelihara - menjadi besar - butuh uang - jual, selesai. Penerapan teknologi dalam pemeliharaan kerbau terbatas sekali karena masih rendahnya orientasi ekonomi peternak. Sementara itu, ternak kerbau kebanyakan hanya digunakan sebagai ternak kerja di wilayah persawahan, sebab itu jarak beranak menjadi cukup panjang, akibatnya kontribusinya sebagai penghasil daging rendah. Sebagai informasi tambahan, di Vietnam, ternak kerbau menyumbang 35% dari total produksi daging nasional (DAO, 2000 dalam Ridhwan, et all., 2007).

Peliharaan ternak kerbau lebih tradisional daripada ternak sapi, sehingga produktivitasnya menjadi lebih rendah. Padahal secara potensial ternak kerbau memiliki potensi sebagai penghasil susu, daging dan kerja yang tidak kalah daripada ternak sapi. Semua potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, karena masih adanya pendapat bahwa produktivitas ternak kerbau lebih rendah dari ternak sapi. Oleh karena itu, ke depan sudah waktunya memperlakukan ternak kerbau setara dengan perlakuan yang diberikan terhadap ternak sapi.

Sulaeman (2010) menerangkan bahwa faktor penyebab menurunnya populasi kerbau di indonesia tidak berbeda jauh dengan di negara-negara asia lainnya. Penurunan produktivitas kerbau disebabkan faktor internal dan faktor eksternal.  
  
 Faktor internal

1)     Masak lambat
Kerbau termasuk hewan yang lambat dalam mencapai dewasa kelamin (Subiyanto, 2010). Pada umumnya kerbau mencapai pubertas pada usia yang lebih tua, sehingga kerbau mencapai dewasa kelamin pada usia minimal 3 tahun (Toilehere,1985) 2-3 tahun (Lendhanie, 2005); 2-2,5 (Subiyanto, 2010).

2)    Lama bunting
Kerbau akan mengandung anaknya selama 10,5 bulan, sedangkan sapi hanya 9 bulan. Menurut Keman (2006) lama bunting pada kerbau bervariasi dari 300-344 hari (rata-rata 310 hari) atau secara kasar 10 bulan 10 hari. Dikemukakan pula oleh Hill (1998) bahwa lama bunting pada kerbau lebih lama dan lebih bervariasi. Untuk kerbau kerja, lama buntuing kerbau mesir bervarisi 325-330 hari. Hasil penelitian Landhanie (2005) di Desa Sapala, kecamatan Danau Panggang lama bunting kerbau rawa mencapai 1 tahun.

3)    Waktu berahi
Umumnya berahi pada kerbau terjada pada saat menjelang malam sampai agak malam den menjelang pagi atau subuh atau lebih pagi (Toilehere, 2001). Menurut Hill (1988) tanda-tanda berahi da kativitas perkawinan pada jkerbau mesir pada umumnya terjadi pada malam hari. Pada saat seperti ini umumnya kerbau-kerbau betina di Indonesian sedang berada dalam kandang yang tertutup yang tidak memungkinkan terjadinya perkawinan.

4)    Adanya Berahi tenang
Tanda-tanda berahi pada kerbau, umumnya tidak tampak jelas (Subiyanto, 2010). Sifat ini menyulitkan paa pengamatan berahi untuk program inseminasi buatan. Meskipun fenomena ini  bisa diatasi dengan menggunakan jantan, namun kelangkaan jantan dan sistem pemeliharaan yang terkurung memungkinkan perkawinan tidak terjadi.

5)    Calving interval cukup panjang
Jarak beranak yang panjang merupakan implikasi dari sifat-sifat reproduksi lainnya. Pada  kerbau keerja jarak beranak bervariasi dari 350-800 haru dengan rata-rata 553 hari (Keman, 2006). Menurut Hill (1988) jarak beranak pada kerbau bervariasi  dari 334-650 hari. Tyergantung pada manajemen yang dilakukan. Menurut Ladhanie (2005) jaerak beranaka pada kerbau rawa antara 18-24 bulan.


Faktor eksternal

1.      Pemberian Pakan
Peternak kerbau di Indonesia umumnya dilakoni oleh masyarakat dengan cara tradisional dan merupakan kegiatan yang turun menurun sehingga pemberian pakan umumnya didapat pada saat digembalakan. Rumput yang tumbuh di lapangan, di pematang sawahn atau pinggir-pinggir jalan adalah pakan yang tersedia pada saat digembalakan. Kontribusi pakan sangat kuat pengaruhnya terhadap performa reproduksi. Makanan berperan penting dalam perkembangan umum dari tubuh dan reproduktif (Tillman, et al., 1983).

Pakan dengan kualitas dan kuantitas yang diberikan sangat rendah sehingga akan berpengaruh tidak baik terhadap performa reproduksi. Ditambah lagi tenaga kerbau digunakan untuk mengolah sawah. Meskipun salah satu keunggulan kerbau adalah mampu memamfaatkan pakan dengan kualitas rendah, namun untuk mendapatkan performa reproduksi yang baik memerlukan makanan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas.


2.     Sosial dan budaya

Beberapa daerah di Indonesia yang secara sosial budaya berkaitan dengan kerbau menunjukkan populasi kerbau yang tinggi. Keterkaitannya bisa berupa  dalam adat istiadat atau kebutuhan tenaga kerja. NTB, Sumatera Barat, Sumatera  Utara, Sulawesi Selatan keterkaitannya lebih pada adat istiadat yang turun temurun. Di Sumatera Barat, kerbau mempunyai arti sosial yang sangat khas.

Rumah adat dan perkantoran pemerintah mempunyai bentuk atap yang melengkung yang melambangkan bentuk tanduk  kerbau. Diduga kata “minangkabau” berasal dari “menang kerbau” (Hardjosubroto, 2006). Pada masyarakat Batak dikenal upacara kematian sepeti saur matua dan mangokal hili. Bagian dari rangkaian upacara tersebut biasanya dilaksanakan pesta syukuran adat yang disertai pemotongan kerbau. Pemotongan kerbau juga dilakukan pada saat upacara perkawinan, horha bius (acara penghormatan terhadap leluhur, dan pendiri rumah adat (Susilowati, 2008).
 
D.  Cara Alternatif Meningkatkan Populasi Ternak Kerbau
         
Dalam rangka meningkatkan produktivitas dan eksistensi kerbau rawa maupun sungai secara berkelanjutan secara umum yaitu dengan melakukan perlindungan, pelestarian, dan pengelolaan ternak kerbau, yang meliputi:
1)  Peningkatan mutu genetik melalui grading up, 
2)  Revitalisasi dan pengembangan kawasan perbibitan kerbau rakyat      melalui penataan kelompok, dan
3)  Pelaksanaan biosekuriti secara tepat terutama pada kawasan perbibitan.

Pengadaan dan pengembangan bibit kerbau dilakukan melalui seleksi dan afkir atauculling secara sistematis, dan menyebarluaskan bibit unggul hasil kajian dan telah memperoleh justifikasi dari lembaga berwenang, baik di pusat maupun daerah. Program pemuliabiakan untuk memperoleh bibit unggul dilakukan melalui:
1)  Seleksi peningkatan populasi dan produktivitas,
2)  Persilangan secara sistematis dan terarah, dan
3)  Program pencatatan ataurecording system terutama di lokasi yang     diarahkan untuk pembibitan dan sertifikasi bibit (Toelihere dan Achyadi     2005).

Sosialisasi oleh pemerintah kepada peternak kerbau bahwa pemberian input bagi ternak kerbau merupakan suatu invetasi yang dapat memberri keuntungan. Salah satu usaha perlu dijalankan adalah melakukan tindakan reward kepada pemilik kerbau melalui kontes ternak kerbau, sehingga mendorong untuk memiliki kerbau yang baik pada skala nasional maupun regional. Dengan demikian harga jual kerbau meningkat.



III.  KESIMPULAN


Kerbau merupakan ternak yang perlu dilestarikan dan ditingkatkan populasinya tentunya guna memenuhi permintaan daging khususnya di Indonesia. Problem yang menyebabkan pengembangan ternak Kerbau di Indonesia menurun adalah tujuan pemeliharaan yang dilakukan peternak tidak jelas, pemeliharaan secara tradisional, aspek reproduksi yang rendah atau lambat (masak lambat, lama birahi, umur kebuntingan, jarak antar beranak, umur kawin, dsb.), aspek eksternal seperti pemberian pakan yang tidak di control, inbreeding.
Inovasi yang harus dilakukan untuk mengkatkan populasi ternak kerbau di Indonesia khususnya adalah melakukan perlindungan, pelestarian, dan pengelolaan ternak kerbau, yang meliputi: 1) peningkatan mutu genetik melalui grading up, 2) revitalisasi dan pengembangan kawasan perbibitan kerbau rakyat melalui penataan kelompok, dan 3) pelaksanaan biosekuriti secara tepat terutama pada kawasan perbibitan. Selain itu juga perlu diadakan sosialisasi kepada para peternak kerbau bahwa kerrbau merrupakan investasi yang menguntungkan di masa depan.



DAFTAR PUSTAKA

Bustami dan Susilawati E., 2007. Sistem Pemeliharaan Ternak Kerbau Di Propinsi Jambi. ProsidingLokakarya Nasional Usahaternak Kerbau 2007. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jambi.

Hamdan, A., E.S. Rohaeni, dan A. Subhan. 2006. Karakteristik sistem pemeliharaan kerbau rawa di Kalimantan Selatan. hlm.170−177. Prosiding Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi. Sumbawa, 4−5 Agustus 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan bekerja sama dengan Direktorat

Ridwan A. B. Thalib dan Chali Talib, 2008.  Peran dan Ketersediaan Teknologi Pengembangan Kerbau Di Indonesia. Prosiding Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau 2008. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Sulaeman, 2010. Percepatan Peningkatan Populasi dan Kualitas Kerbau Melalui efisiensi Reproduksi. Prosiding Lokakarya Nasional Kerbau 2010, Universitas Padjadjaran.

Suryana,  2007. Usaha Pengembangan Kerbau Rawa di Kalimantan Selatan. Jurnal Litbang Pertanian, Kalimantan Selatan.

Toelihere, M.R. dan K. Achyadi. 2005. Desain program pengembangan ternak kerbau di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2006− 2010. Makalah disampaikan pada Forum Konsultan Peternakan. Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. 34 hlm.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar